Sang Orator Wanita Petama Dalam Islam - Asma' bin Yazid


syakirdaulay.com - Sahabat yang di rahmati Allah, mengapa sebagai muslimah sejati kita perlu meneladani tokoh-tokoh Islam, terutama para Shahabiyyah?


Karena mereka adalah orang-orang yang mulia dan utama, orang-orang yang tercerahkan dan dicerahkan, tidak tersesat dan tidak disesatkan, kuat dan berkualitas. Mereka membuktikan keimanan dan keislaman dengan sikap dan perilaku utama. Karena itu, tak seorang pun meragukan kemuliaan dan keutamaan para sahabat Rasulullah SAW. Hal ini tak lain karena Rasulullah lah satu-satunya idola mereka yang selalu mereka jadikan panutan.  


Asma' bin Yazid, sang orator dan singa podium dari kalangan perempuan Muslimah. Sosok Muslimah yang cerdas dan tangguh. ialah, seorang sahabat yang dekat dengan Rasulullah, dikenal dengan nama Ummu Amir atau Ummu Salamah. Ia seorang ahli hadis yang juga seorang orator dan singa podium yang agung. Asma' merupakan sosok Muslimah cerdas, tangguh serta kuat agamanya. 


Sosok muslimah yang satu ini memiliki kemampuan argumentasi luar biasa serta kemampuan retorika yang sangat baik. Maka tak heran,  Asma’ binti Yazid dijuluki sebagai Khatibah An-Nisa - sang orator wanita pertama dalam Islam.


Sang Orator Wanita Petama Dalam Islam - Asma' bin Yazid



Salah satu keistimewaan Asma' bin Yazid adalah kepekaan inderanya, kejelian perasaannya serta ketulusan hatinya. Bahkan ia pun seorang wanita pemberani, tegar, dan menjadi teladan di sejumlah medan perang bagi para muslimah lainnya.


Kecerdasannya dan kemampuan retorikanya bisa kita telaah, dari pertanyaan-pertanyaan yang sering iya tanyakan secara langsung kepada Rasulullah, yang selalu mengundang decak kagum orang-orang yang mendengarnya. Sebuah pertanyaan yang dilandasi keimanan dan rasa haus untuk berbuat kebaikan, semata demi keridhaan Allah.


Suatu ketika ia datang menemui Rasulullah, yang sedang duduk-duduk bersama para sahabatnya. Kemudian dia berkata, 


“Wahai Rasulullah, aku adalah seorang utusan kaum wanita yang datang padamu. Sesungguhnya Allah mengutusmu bagi para lelaki dan wanita seluruhnya secara sama. Maka kami beriman padamu dan Tuhanmu. Dan kami kaum wanita merasa terkungkung dan terpencil dalam rumah-rumah kaum lelaki, sebagai pelampiasan hawa nafsu kaum lelaki, dan mengandung anak-anak mereka.”


Asma’ binti Yazid melanjutkan, “Sedangkan, kaum laki-laki dapat melakukan amalan. Mereka dapat menghadiri shalat Jum’at dan shalat berjama’ah, mengunjungi orang sakit, menyertai jenazah, pergi berhaji, umrah atau jihad fi sabilillah.”


“Kamilah yang menjaga harta mereka, menjahitkan baju mereka dan memelihara anak-anak mereka. Apakah kami tidak bisa dapatkan pahala yang sama dengan mereka?”


Rasulullah kagum mendengar uraian tersebut, lalu berpaling kepada para sahabat dan berkata,
"Apakah kalian pernah mendengar perkataan seorang wanita yang lebih baik darinya, yang mengadukan permasalahannya dalam urusan agamanya?"


"Wahai Rasulullah, sebelumnya kami tidak pernah menyangka, bahwa kaum wanita akan bertanya seperti itu," jawab mereka


Kemudian Rasulullah menghadap Asma', lalu bersabda,

"Dengarkanlah dengan seksama, kemudian ajarkanlah kepada wanita di belakangmu. sesungguhnya amal wanita yang selalu berbuat baik kepada suaminya dan membahagiakannya (meminta keridhaan kepada suaminya, mengikuti apa yang disetujui suaminya) maka kalian mendapatkan pahala yang sama  dengan amal yang di kerjakan kaum lelaki seluruhnya."


Asma’ binti Yazid adalah orang yang sangat haus akan ilmu, ia senantiasa bertanya kepada Rasulullah tentang berbagai hal hingga kepada rinciannya, sehingga ia mendapatkan kejelasan tentang apa pun yang ditanyakan dan tidak ada lagi masalah yang dianggapnya rumit dan tersamar.


Adapun keutamaan Asma’ binti Yazid adalah dalam hal hafalan dan pemahamannya tentang hadits Nabi. Ia meriwayatkan sebanyak 81 hadis, dan banyak di antaranya yang juga meriwayatkan hadits darinya. Ini menunjukkan bahwa Asma’ binti Yazid sangat memperhatikan ilmu dan ia pun sangat rajin mengunjungi Rasulullah SAW dan Ummul Mukminin untuk bertanya tentang Islam.


Coretan tinta emasnya masih berlanjut, dalam perang Khandaq, Asma’ binti Yazid mengirimkan makanan untuk Nabi Muhammad dan para sahabat. Demikian pula dalam perang Khaibar dan perang Yarmuk, ia memberi makan dan minum para prajurit yang kehausan dan mengobati orang-orang yang terluka. Seolah tak terkalahkan dengan semangatnya, ia terjun dalam perang Yarmuk termasuk perang besar-besaran hingga para wanita turut berperan di belakang tentara muslim dengan gagah berani. dan berhasil membunuh sembilan orang pasukan Romawi dengan menggunakan tiang penyangga kemahnya.


Wahai kaum Milenial, bagaimana dengan idolamu hari ini? sudahkah mereka menginspirasimu untuk menjadi muslimah yang berkualitas? Bagaimana dengan aktifitasmu? Sudahkah aktifitasmu berbasis akhirat? atau masih saja bercengkrama menjadi kaum rebahan aja dan kehidupan menjadi ambyar? Sudahkah hari ini, kita mengikhlaskan waktu, tenaga, serta intelektual kita dalam mendedikasikannya untuk kebaikan umat, bangkit dari keterpurukan? 


Adakah yang dapat kita teladani dari kisah Asma’ binti Yazid ini? Sebagai muslimah yang sejati, penting ketika kita memiliki kemampuan untuk  di sandingan dengan  Ilmu, yang dapat mengarahkan kepada aktifitas -aktifitas yang penuh manfaat, menggapai Ridha Allah yang berbasis akhirat. Karena muslimah adalah madrasah ula, rahim kehidupan, pencetak generasi muda sebagai tombak kebangkitan peradaban. Jika  madrasah ulanya cerdas dan berkualitas, In syaa Allah demikian pula lah penerus peradaban ini.


Segala kebaikan yang kita tanam, maka itulah yang akan kita tuai, begitu juga sebaliknya sebagaimana amal jariah. Pahalanya akan terus mengalir, hingga kelak walau nadi tak lagi berdenyut.


Baca juga : Sayyidah Aisyah My Inspiration







Penulis: Asilatuj Jilan seorang konten kreator muslimah yang merupakan founder Golden Creatif @goldendakwah. Aktif di dunia kepenulisan sejak tahun lalu dan menjadi alumni #nulisyuk. Info lebih lanjut @asilatujjilan atau asilatujjilan@gmail.com