Buang Rasa Kecewa Hidup Jadi Tenang


syakirdaulay.com - Bismillah. Hari ini kecewa sama anak, besok kecewa sama tetangga, besoknya kecewa sama suami, besoknya kecewa sama orang tua, besoknya sama mertua, sama penjual, sama pembeli, sama atasan, sama bawahan, terus aja kecewa. Sering juga kecewa pada diri sendiri. Kecewa itu biasanya karena berpengharapan tinggi.


Bisa juga karena terlalu banyak membandingkan dengan keadaan orang lain. Jadi saat enggak sesuai kita kecewa. Padahal semua di dunia ini kan memang ga ada yang sempurna.


Orang itu ada yang kadar baiknya banyak, padahal tetep ada buruknya, tapi tetep yang nampaknya baik.

Ada yang kadar buruknya banyak jadi meskipun berbuat baik tetep yang nampaknya buruk.

Ada yang berbuat buruk terus tapi kemudian bertobat dan berbuat baik.

Ada yang berbuat baik terus tapi di akhir malah tergelincir berbuat buruk.


Ada yang sebetulnya buruk tapi pencitraannya baik.
Ada yang sebetulnya baik tapi difitnah sehingga namanya terlanjur dicap buruk.
Macem-macem lah aneka 'prasangkaan'.
.

Kita sandarkan semua pada Allah.
Semua terjadi atas KehendakNya.
Belajar ikhlas.
Belajar ridha.


Ada orang yang memberi kita hikmah, ada yang memang jadi ujian, nguji terus. 


Ke anak kita kecewa kenapa dia enggak seperti kita ajarkan. Padahal ternyata mereka masih proses.
Ujian kesabaran juga bagi orang tuanya.


Belum waktunya kita memetik hasil 😔 karena kita sendiripun belum sungguh-sungguh mendidik diri kita sendiri.


Ke orang tua kita kecewa karena mereka enggak bertindak seperti yang seharusnya orang dewasa bertindak.


Ternyata mereka telah Allah buat kembali seperti anak kecil maka itu artinya kita yang dituntut untuk dewasa. Kita yang harus memahami segala kekurangan mereka seperti mereka dulu bersabar dan terus berdoa atas segala kekurangan kita.


Buang Rasa Kecewa Hidup Jadi Tenang


Ke pasangan kita kecewa kenapa banyak sekali perbuatan buruknya, banyak sekali kekurangannya.
Padahal kitapun tanpa sadar punya segudang keburukan yang fatal. Bukankah jodoh itu memang akan saling mempengaruhi? Dan yang kuatlah yang akan menang.
.

Maka kita upayakan kebaikanlah yang dominan dalam rumah tangga kita. Berbuat baik bukan karena pasangan berbuat baik juga. Tapi kita berbuat kebaikan demi 'nilai' kita di hadapan Allah kelak.


Ke diri sendiri kita kecewa kenapa hidup enggak sesuai yang ditargetkan. Kenapa Allah kasih keadaan begini begitu enggak sesuai harapan. Padahal senjata hidup itu ada dalam sabar dan syukur.


Berdamai sama ketidakidealan.
Berdamai sama takdir.
Bersyukur atas segala karunia.
Bersabar atas segala macam ujian.


Kita boleh berharap, tapi tetap kita yakin semua hanya akan terjadi sesuai yang Allah kehendaki.Dan itu enggak selalu sesuai dengan apa yang jadi kehendak kita. Adanya semua peristiwa itu pasti ada pembelajaran buat hidup kita.


Jangan sampe kita kecewa sama Allah.
Allah itu pasti beri kita yang terbaik.


Stop mikir, kenapa gitu ya?
Ko gini sih?
Ko dia kaya gitu sih, harusnya kan dia begini begini begini.
Ko hidup saya gini sih?
Ko hidup mereka lebih enak ya?


Ngga sama.
Latar belakang.
Kepahaman agama.
Keadaan ekonomi.
Keadaan rumah tangga.
Keadaan kerabat dan keluarga besar.
Keadaan lain-lain.


Banyak faktor yang saat orang menyelesaikan masalah menjadi enggak seperti yang kita lakukan, menjadi enggak seperti yang kita bayangkan harusnya dia lakukan.


Ya kan kita juga enggak di posisi mereka.
Belum tentu juga saat kita yang mengalami akan mengambil jalan 'ideal'.


Kita lakukan tugas kita sebaik-baiknya sambil terus berdoa kebaikan buat kita dan orang sekitar. Jangan terlalu banyak memasukkan pengharapan-pengharapan. Berharap hanya pada Allah aja.


Setelah kita berusaha melakukan yang terbaik bagi diri kita dan orang sekitar, kita biasakan ucap :

"Qadarullahu wa maa syaa-a fa'ala"


Allah sudah menakdirkan segala sesuatu dan Dia berbuat menurut apa yang Dia kehendaki.
(HR. Muslim 2664)


Udah enak, tenang, damai, in syaa Allah 'sembuh' segala macam kekecewaan. Buang rasa kecewa hidup jadi tenang

Laa hawla wa laa quwwata illa billaah.


Kita enggak akan dihisab atas perbuatan orang lain yang melenceng dari kebaikan yang sudah kita ajak.


Anak sholeh dihisab sendiri.
Orang tua sholeh dihisab sendiri.
Adik kakak sholeh dihisab sendiri.
Tetangga sholeh dihisab sendiri.
Ulama sholeh dihisab sendiri.
Dst.


Keburukan orang lain yang tetap dikerjakan enggak akan berpengaruh pada kita selama kita sudah menjalankan kewajiban menasehati dan mendoakan.


Allah Maha Teliti hisab-Nya.
Enggak mungkin amalan baik ketuker-tuker atau salah alamat.


Bahagia seperlunya.
Sedih seperlunya.
Kagum sewajarnya.
Bencipun sewajarnya.
Buang rasa kecewa hidup jadi tenang

Kita enggak pernah tahu apa yang Allah takdirkan selanjutnya dalam hidup kita maupun hidup orang di sekitar kita 😊

Barakallaahu fiik




                   Yuk Perbaiki Diri Kita, Jangan Nunggu Bersih

Artikel ini ditulis oleh 
Rona Safreni