Syakir Daulay Hidup Bersama Orang Tua Asuh Pertama

syakirdaulay.com - Sesampai di Bireuen kalau ada waktu senggang, saya browsing di warnet untuk mencari orang tua asuh. Saya facebookan dan inbox ke yang saya kira-kira mungkin membantu.  Tidak mudah mendapatkannya, butuh waktu dan proses, tetapi terus berusaha. Alhamdulillah,  dengan izin Allah, seminggu kemudian ada seorang Ibu yang berhati mulia (Eka) membalas inbox. Ibu Eka prihatin dan bersedia mengasuhnya selama masa pembinaan dua bulan serta mengantarkannya ke tempat pembinaan setiap hari Sabtu dan Minggu. Ia tinggal di Pondok Pinang Jakarta Selatan dan tidak begitu jauh dengan Kampus PTIQ. Dalam inboxnya ia ingin mengambil anak-anak saya hari itu juga. Saya memberikan nomor HP saya, lalu saya menanyakan kesungguhannya.

Syakir Daulay Hidup Bersama Orang Tua Asuh Pertama

Setelah telponan dengannya, saya menelpon Ibu Khadijah dan mengabarkan perihal ada seorang Ibu yang ingin mengasuh anak-anak dan siap mengantarkan anak-anak setiap Sabtu dan Minggu untuk mengikuti pembinaan. Ibu Khadijah juga memberitahukan perihal itu ke suaminya karena Ibu masih dalam perjalanan pulang ke rumah. Semua serba dadakan. Akhirnya hari itu juga, setelah Magrib Ibu Asuh bertemu dengan Bapak Muhaimin (suami Ibu Khadijah). Bapak menyambut baik maksud Ibu Asuh dan hanya meminta fotokopi KTP saja dan setelah itu Syakir Daulay dan Fauzan Daulay serta kopernya dibawa Ibu Asuh. Salah satu keponakan Bapak ikut mengantar karena jaraknya dekat. Allah selalu turun tangan untuk hamba yang suka membaca Alquran.

Alhamdulillah sejak tanggal 15 Nopember 2009  Syakir Daulay dan Fauzan Daulay sudah tinggal di Pondok Pinang bersama Ibu Asuh. Anak kandung Ibu asuh ada 3 orang dan bisa menjadi teman bermain. Rumah Ibu asuh jadi rame dan selalu penuh kegembiraan. Bila tiba hari Sabtu dan Minggu, suami Ibu Asuh mengantar Syakir dan Fauzan ke kampus PTIQ untuk mengikuti pembinaan. Selesai pembinaan dijemput lagi. Jika terlambat dijemput juga enggak apa-apa, karena Syakir dan Fauzan bisa istirahat di rumah Bu Khadijah yang letaknya di samping Kampus PTIQ. Alhamdulillah, beban saya jadi berkurang karena untuk kebutuhan tempat tinggal tidak lagi mengeluarkan biaya demikian juga untuk makan dan cuci pakaian.

SEKOLAH TITIPAN

Hampir 2 minggu anak-anak tinggal bersama Ibu Asuh tapi Syakir Daulay dan Fauzan Daulay mulai hari Senin sampai Jumat di kala pagi hari tidak ada kegiatan, sementara anaknya Ibu Asuh pergi ke sekolah. Ibu Asuh punya ide yang bagus. Kebetulan jarak 200 meter dari rumah ada sekolah SD, lalu Ibu ke sekolah tersebut dan menjumpai kepala sekolah. Ibu menceritakan perihal anak-anak dan untuk mengisi kekosongan di pagi hari, ibu mohon kepada Kepala Sekolah agar anak-anak diizinkan belajar sebagaimana siswa yang lain. Alhamdulillah.

Selama tinggal bersama Ibu Asuh Syakir Daulay dan Fauzan Daulay sering dibawa ke majelis taklim yang Ibu ikuti. Anak-anak sampai di tempat pengajian selalu diminta mengaji. Ibu-ibu yang mengiktui pengajian gemes melihat Syakir Daulay dan Fauzan Daulay yang masih imut dan polos. Ibu-ibu suka mengajak bicara anak-anak dan sering sekali Syakir bisa membuat jamah ibu-ibu tertawa. Kebiasaan untuk tampil di depan umum terus diberi motivasi oleh Ibu Asuh kepada anak-anak. Bahkan sekali waktu Ibu mengajak Uje berceramah ke Sekolah milik Yayasan dan anak-anak ikut serta bersama Ustaz Jefri Al Buchory atau yang biasa dipanggil Ustaz Uje. Anak-anak cepat sekali akrab dengan siapapun. Nah saat itu Syakir dan Fauzan juga diminta tampil di atas panggung untuk melantunkan bacaan Quran.

Syakir Daulay, Fauzan Daulay Bersama Ibu Asuh dan Ustaz Jefri Al Buchori tahun 2009
Tak terasa masa pembinaan tinggal seminggu lagi akan berakhir, apakah syakir akan kembali ke Bireuen atau tetap di Jakarta. Sebuah pilihan yang sangat sulit dijawab. Jika saya melihat perkembangan anak-anak selama di Jakarta banyak menunjukkan kemajuan. Lalu kalau kembali ke Bireuen, tentu akan berangkat lagi bulan Maret 2010 untuk mengikuti MTQ Propinsi DKI. Saya hanya bisa berdoa dan berikhtiar lagi untuk mencari orang tua asuh berikutnya.