Tugas Utama Anak Berbakti Kepada Orang Tua

syakirdaulay.com - Seseorang pernah datang dan bertanya kepadaku, “Mengapa hanya anak yang bisa durhaka kepada kedua orang tua?!”. Aku termenung. Saat itu, aku hanya sedang berusaha untuk memikirkan kondisinya. Ia, yang dirawat, diasuh, dan dibesarkan oleh orang lain walaupun ibunya masih hidup. Memang yang mengasuhnya masih keluarga, tapi, bagaimana pun aku tahu, ia mungkin merasa tersakiti dengan kenyataan seakan tak dipedulikan oleh orang tuanya.


Tugas Utama Anak Berbakti Kepada Orang Tua


Sepertinya, bukan hanya dirinya saja yang merasakan demikian. Banyak anak di luar sana, dengan tingkat keparahan yang berbeda, merasa diabaikan bahkan memang benar-benar ditinggalkan oleh orang tua mereka. Ya, Allah.. aku tahu betapa menyakitkannya itu.


Tetapi aku mencoba tersenyum dan berkata, “setiap orang akan dimintai pertanggung jawaban atas apa yang ia lakukan. Tugas kita hanyalah menjadi anak yang berbakti.”


Seorang imam adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawabannya. Seorang suami adalah pemimpin atas keluarganya. Suami akan dimintai pertanggungjawabannya.  Isteri juga pemimpin, tapi pemimpin dalam rumah tangganya dan terhadap anak-anaknya.  Ia juga tak luput dimintai pertanggungjawabannya. Bahkan seorang budak juga pemimpin atas harta tuannya dan ia  akan dimintai pertanggungjawabannya.


Ya, seburuk apa pun orang tua kita, tidak bisa mengubah kenyataan bahwa dari keduanyalah kita bisa lahir di dunia ini. Sekecewa apapun kita kepada mereka, atau semarah apapun kita karena apa yang mereka lakukan, mereka tetaplah orang tua kandung kita. Jadi sehebat apapun kita sebagai anak, sekaya apapun kita sebagai anak, sealim apapun kita sebagai anak, tetap tak dibolehkan marah kepada orang tua, tetap harus berkata lemah lembut kepada orang tua. 


Ada orang tua yang selalu menasihati anaknya agar jangan terlalu boros. Sebab ada anak yang merasa dirinya sudah pandai mencari uang, lalu karena selalu dipuji oleh temannya, selalu dikedepan oleh gurunya dan disanjung-sanjung oleh gurunya, maka semua uang yang didapatkan diberikan kepada teman dan gurunya. Lalu ketika dinasihatin sama orang tuanya untuk berhemat, mengatur pengeluaran dan pemasukan serta menabung untuk dirinya sendiri, bukan untuk orang tuanya. Anak tersebut malah tidak suka kepada orang tuanya.


Dan jika gurunya yang punya sifat menguras uang anak orang lain, memanfaatkan anak orang lain, hanya dengan modal memujinya, mengkedapankan dalam acara-acara bersama gurunya, bertobatlah, Seharusnya guru ini harus mempunyai rasa malu dan berhenti memanfaatkannya. Apalagi guru tersebut mengetahui orang tuanya marah-marah karena memberikan uang kepadanya. Maka uang yang diterimanya menjadi tidak berkah bahkan bisa tidak halal.  Seorang anak tak boleh berbakti atau takzim/khidmat kepada gurunya melebihi berbakti atau takzim/khidmat kepada kedua orang tuanya. Jika ada  ajaran dari gurunya harus lebih berbakti dan takzim/khidmat kepadanya, maka gurunya itu guru yang sesat, karena ingin menginginkan uang darinya.


Dari Jabir bin Abdillah, ada seorang berkata kepada Rasulullah, "Ya Rasulullah, sesungguhnya aku memiliki harta dan anak, namun ayahku ingin mengambil habis hartaku." Rasulullah bersabda, "Engkau dan semua hartamu adalah milik ayahmu." (HR. Ibnu Majah, no. 2291, dinilai sahih oleh Al-Albani)


Maka tugas utama kita sebagai anak adalah berbakti, bersabar atas perlakuan kedua orang tua kita, berbuat baik kepada keduanya, dan melaksanakan apa yang baik diarahkan oleh orang tua untuk kepentingan anaknya sendiri. Lakukanlah dengan niat mendapatkan ridha Allah subhanahu wata’ala. Mungkin, ini menjadi sangat berat terutama jika hati merasa sangat tersakiti. Tetapi, tetaplah berusaha, lillah.


Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam memberikan kita sebuah kabar gembira bahwa orang tua kita adalah salah satu pintu surga yang utama. Nabi bersabda : Orang tua adalah pintu surga paling tengah. Kamu sia-siakan pintu itu, atau kamu menjaganya. (Hadits Riwayat Ahmad 28276, Turmudzi 2022, Ibn Majah 3794, dan dihasankan Syuaib al-Arnauth).


Sahabat, dalam menjalani kehidupan ini, kita hanya berusaha menjalankan tugas kita sebaik-baiknya sebagai hamba Allah subhanahu wata’ala. Terlepas apakah manusia akan membalas kebaikan kita ataukah tidak, apakah orangtua kita akan balik berbuat baik kepada kita ataukah tidak, maka ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah Subhanahu Wata’ala, Robb kita, Maha Melihat apa yang kita lakukan. Allah Subhanahu Wata’ala, Asy-Syakuur, akan membalas setiap usaha kita dalam rangka meraih ridha-Nya. 


Mungkin saja, secara syari’at, orang tua bisa disebut durhaka kepada anaknya, tetapi, setelah mengetahuinya kita sebagai anak bisa berbuat apa? Menyalahkan orang tua karena telah durhaka? Apa kiranya manfaatnya untuk kita? Jawabannya adalah “tidak ada”. Tidak ada manfaatnya bagi kita memendam rasa marah dan benci itu, selain menambah penyakit dalam hati kita.


Maka tariklah napas dalam dan relakanlah. Ridhalah atas ketentuan yang Allah takdirkan dan jadikan kehidupanmu ke depannya hanya untuk menjemput ridha-Nya. Ya, walaupun berat. Tetapi, segala kesedihan, air mata yang berember-ember itu, akan sirna saat kaki kita melangkah di surga. Surga yang kenikmatannya tak mampu terjamah akal kita. Itulah tempat tujuan kita. Maka lakukanlah dengan ikhlas, semoga Allah akan membalas kita dengan surga-Nya yang paling tengah.






                   Biodata Syakir Daulay dan Keluarga



Artikel ini ditulis oleh Fatimah Az Zahra
Alumni #nulisyuk