Makna Kejar Akhirat Jangan Lupa Dunia

syakirdaulay.com - Pernah enggak sih kalian takut kalau lagi mau ada ujian di sekolah, entah ujian harian, tengah semester atau ujian nasional? Pasti semua manusia pernah merasakan ketakutan jika ia menghadapi ujian di dunia ini, namun yang menjadi pertanyaan adalah mengapa kita sebagai manusia yang hanya sementara di dunia ini selalu mengkhawatirkan dunia saja dan seringkali melupakan kehidupan akhirat yang abadi?

Kita sering meresahkan masa depan kita di dunia sampai-sampai kita melupakan akhirat. Seberapa seringkah kita khawatir dengan pertanyaan Malaikat Munkar dan Nakir di alam kubur nanti? Jika di dunia kita tidak bisa menjawab ujian dengan maksimal kita masih bisa berusaha kembali untuk memperbaikinya, namun setelah kita meninggal nanti kita tidak akan bisa kembali ke dunia untuk memperbaiki amalan kita.

Pembahasan ini mengingatkan saya pada kata-kata Muzzammil Hasballah seperti ini kurang lebihnya “Kebanyakan dari kita ngeraih dunia, kejar dunia habis-habisan, mati-matian tapi lalai dengan akhirat, padahal sebenarnya ketika kita mengejar akhirat kita akan otomatis mendapatkan dunia. Namun jika kita hanya mengejar dunia kita tidak akan mendapatkan akhirat.” Itu yang saya tanam di pikiran saya supaya sewajarnya dalam mengejar dunia dan selalu berusaha belajar untuk mengutamakan kehidupan akhirat. Tetapi kita tidak boleh berlebihan juga dalam mengejar akhirat.

Makna Kejar Akhirat Jangan Lupa Dunia

Seperti kisah pada zaman Rasul, yaitu ada seorang sahabat Nabi bernama Abdullah bin Amr bin Ash.  Ia lebih dahulu masuk Islam dari pada ayahnya. Ia dikenal sebagai sahabat yang sangat tekun dalam beribadah dan dalam menuntut ilmu. Setiap ayat Al-Qur’an diturunkan, ia selalu rajin untuk menghafal dan memahaminya secara menyeluruh. Sehari-harinya selalu dipenuhi dengan aktivitas beribadah mulai dari terbit fajar hingga tiba fajar berikutnya dan berpuasa setiap hari. Abdullah bin Amr bin Ash sampai-sampai tidak pernah memperhatikan isterinya sedikitpun.

Melihat kejadian itu, Rasulullah menasehatinya “Sesungguhnya engkau tidak akan mampu melakukan hal tersebut. Untuk itu, berpuasa dan berbukalah. Bangun dan tidurlah. Cukuplah tiga hari berpuasa dalam sebulan, karena satu kebaikan dibalas sepuluh kali lipat dan itu seperti puasa sepanjang tahun.”

Abdullah pun menjawab : “Aku masih sanggup melakukan yang lebih dari itu, ya Rasulullah.” Rasulullah pun akhirnya memintanya untuk puasa seperti yang Nabi Daud lakukan yaitu satu hari puasa satu hari berikutnya tidak dan begitu seterusnya. Abdullah hanya bisa terdiam mendengar jawaban tersebut.

Rasulullah bertanya kembali kepada Abdullah : “Benarkah engkau membaca Al-Qur’an sepanjang malam dan engkau tidak tidur?” Abdullah mengiyakan pertanyaan tersebut.

“Cukup khatamkan Alqur’an selama satu bulan dan jika kamu bisa lebih cepat cukup 10 hari dan lebih cepat lagi 3 hari. Aku juga berpuasa dan berbuka. Aku shalat dan tidur. Aku juga menikahi perempuan. Ketahuilah tubuh juga punya hak istirahat,”jawab Rasulullah." (HR. Bukhari dan Muslim) Abdullah bin Amr bin Ash pun kembali terdiam mendengar ucapan Rasulullah.

Maka dari itu, mari kita berbenah diri untuk menjadi pribadi yang lebih baik dan mempersiapkan bekal untuk kehidupan akhirat nanti. Insya Allah jika kita bisa menyeimbangkan antara dunia dan akhirat maka kita akan mendapat kesuksesan di dunia dan akhirat pula. Aamiin Allahumma Aamiin.
Artikel ini ditulis oleh :
@fadiyaasyifa