Pengalaman Syakir Daulay Ajak Mileneal Berkurban



syakirdaulay.com - Bismillah ... Setelah menjalankan Hari Raya Idul Adha, pastinya dibalik itu semua memiliki makna yang tersirat bagi diri kita. Sama seperti hal nya yang dirasakan oleh Syakir Daulay. Seorang pemuda berusia 18 tahun kelahiran tanah Bireuen, Aceh ini memiliki pandangan pribadinya mengenai Hari Raya Idul Adha yang setiap tahun sekali dirayakan oleh seluruh umat islam. 


Baca juga : Biodata Syakir Daulay Lengkap dan Terbaru


Menurut Syakir Daulay, dalam memaknai Hari Raya Idul Adha bukanlah hanya sekedar ikut serta dalam menyembelih atau pun memotong hewan kurban. Akan tetapi bagaimana kita bisa mengorbankan cinta yang tanpa batas kepada Allah SWT, tanpa membuat diri kita lupa akan cintanya Allah SWT yang selama ini senantiasa baik kepada kita dengan memberikan semua apa yang ada di dunia ini secara gratis. 


Hari Raya Idul Adha juga disebut Hari Raya Kurban. Hari Raya Kurban ini mengungkapkan sejarahnya Nabi Ibrahim As bersama anaknya yang bernama Nabi Ismail. Pada saat itu Nabi Ibrahim As ingin menyembelih atau mengurbankan anaknya yaitu Nabi Ismail As karena perintah Allah SWT. Akan tetapi, pada saat itu juga Allah SWT menggantikan dari pada Nabi Ismail yaitu dengan seekor domba. "Hakikatnya yaitu bukanlah Allah SWT yang menyembelih anak dari  Nabi Ibrahim As, tetapi Allah SWT menyuruh Nabi Ibrahim As untuk mengorbankan cintanya selain kepada Allah SWT. ” 


Baca juga : Syakir Daulay dan Adiba Menanggapi Biasa Saja Perihal Dijodohkan Warga Net


Baginya, pelaksanaan Hari Raya Kurban di tahun ini sangatlah berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Beberapa kegiatan yang biasa dilakukan bersama keluarganya saat Hari Raya Idul Adha juga tidak bisa dilakukan. Menurut Syakir, maknanya tidaklah berubah hanya medianya saja yang berbeda. Kegiatan Idul Adha sih biasanya ya silaturahmi. Saat ini selama masih ada covid-19 silaturahmi hanya bisa dilakukan melalui online saja. Jadi bisa juga memanfaatkan waktu untuk istirahat karena sedang libur syuting.. 



Pengalaman Syakir Daulay Ajak Mileneal Berkurban



Syakir Daulay menceritakan pengalamannya tahun-tahun sebelumnya ketika saat pertama kali membeli hewan kurban di Hari Raya Idul Adha dengan cara melakukan iuran bersama teman-teman milienealnya beberapa tahun yang lalu. Seorang remaja yang telah menghafal 10 Juz Al-Qur’an ini mengatakan bahwa saat itu dirinya belum mampu untuk membeli hewan kurban sendiri. Namun, karena niat Syakir yang begitu kuat untuk bisa berkurban, ia pun berinisiatif ajak teman milenealnya untuk melakukan iuran agar bisa membeli hewan kurban. Syakir bersama ke sembilan temannya iuran kurban masing-masing senilai Rp.200.000 per bulan.

Baca juga : Siapapun Bisa Menebar Kebaikan Kepada Sesama Walau Sekecil Apapun

Bagi Syakir, berkurban di Hari Raya itu tidak harus menunggu sampai kita memiliki banyak uang teman-teman sekalian. Dengan cara yang telah dilakukan oleh Syakir bersama teman-temannya melalui iuran merupakan salah satu jalan alternatif yang bisa dilakukan oleh para anak remaja millenial untuk bisa berkurban (jika belum mampu membeli hewan kurban sendiri). 



Dibalik keinginan Syakir untuk bisa berkurban, ternyata Syakir memiliki niat yang sangat baik untuk bisa kita terapkan teman-teman sekalian. Apa niat baiknya itu? “Untuk bersedekah bareng-bareng membeli seekor lembu guna dibagikan kepada orang-orang fakir miskin. Jadi, walaupun dulu Syakir tidak bisa berkurban sendiri setidaknya saya bisa berkurban bersama teman-teman.”



Baca juga : Sudahkah Kita Bersyukur Hari Ini?

Setelah meraih kesuksesan dalam dunia karirnya, Syakir Daulay pun berterus terang bahwa ia bersyukur saat ini telah diberikan kesempatan oleh Allah SWT untuk bisa membeli hewan kurban sendiri. Tanggapan syakir mengenai bagaimana perasaan nya ketika dirinya bisa membeli hewan kurban sendiri "Alhamdulillah senang banget, makanya untuk teman-teman sekalian yang belum bisa membeli hewan kurban sendiri bisa melakukan iuran saja bersama teman-teman,”


Sekian artikel pada kesempatan kali ini, kurang dan lebihnya saya mohon maaf. Wassalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.






Artikel ini ditulis oleh : 
Muszalifah Balqis